Talut dan Jalut, Pertempuran
Sengitsepeninggal Musa
Setelah
berlalu masa yang cukup panjang, sepeninggal Musa ‘alaihissalam, Bani Israil
semakin jauh dari Taurat dan berpaling dari syareat. Allah timpakan kehinaan
berupa kaum dzalim yang menindas Bani Israil, hingga terusir dari negeri-negeri
mereka.
Demikian
itulah sunnatullah, kehinaan tidak akan menimpa suatu kaum kecuali
dengan sebab mereka berpaling dari syareat Allah. Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي
عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat)
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Ar-Ruum: 41
Dalam
sebuah hadits Rasulullah saw bersabda:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ،
وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ ، وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ
، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى
دِينِكُمْ
“Jika
kalian telah berjual beli dengan riba, dan kalian telah mengambil ekor-ekor
sapi serta ridho dengan kebun-kebun (yakni melupakan akherat), dan kalian tinggalkan
jihad sungguh Allah akan kuasakan kehinaan atas kalian, dan tidak akan dicabut
kehinaan itu hingga kalian kembali kepada agama kalian.”
Di
masa itu Bani israil tertindas, hingga datanglah seorang Nabi di tengah mereka.
Dalam kitab-kitab Tafsir disebutkan bahwa beliau adalah nabi Samuel, ada yang
berpendapat dia adalah Yusya’ bin Nun, ada lagi yang mengatakan dia adalah
Syam’uun.
Siapa
sejatinya nabi tersebut ? Allahu a’lam bishshawab, hanya Allah yang mengetahui.
Tidak ada satu riwayat shahih pun menyebutkan nama. Yang pasti, Al-Quran
tidak menyebutkan. Sama halnya dengan Ashabul Kahfi. Kisahnya masyhur, namun
tidak seorang pun dari pemuda-pemuda beriman itu Allah sebut namanya
dalam Al-Quran.
Bani
Israil menyadari bahwa kemuliaan tidak akan terwujud melainkan dengan
menegakkan syareat Allah. Mereka menyadari kemuliaan tidak akan kembali kecuali
dengan jihad fi sabilillah.
Beberapa
pembesar Bani Israil menjumpai Nabi Allah meminta agar dipilih raja diantara
mereka untuk memimpin Bani Israil menegakkan jihad fisabilillah. Allah
berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلإ مِنْ بَنِي
إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا
مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Apakah
kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israel sesudah Nabi Musa, yaitu
ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang
raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”.
Dengan
penuh kelembutan dan kearifan, Nabi Allah mengingatkan Bani Israil dari
penyimpangan, beliau menghawatirkan Bani Israil akan berpaling ketika syareat
Jihad Allah wajibkan.
قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ
عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلا تُقَاتِلُوا
Nabi
mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu
tidak akan berperang.”
Dengan
semangat yang menggelora Bani Israil menyatakan kemustahilan mereka akan
berpaling.
قَالُوا وَمَا لَنَا أَلا نُقَاتِلَ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا
Mereka
menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal
sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak
kami?”
Benar
firasat Sang Nabi, semangat Bani Israil hanyalah letupan sesaat. Ketika datang
kewajiban Jihad fi sabilillah, Bani Israil berpaling dari kewajiban kecuali
sebagain kecil dari mereka. Allah berfirman:
فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ
الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
Maka
tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali
beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha mengetahui orang-orang
yang lalim. 2:246
Allah
Memilih Thalut Sebagai Raja
Keinginan
Bani Israil terwujud. Allah mewahyukan kepada nabi-Nya bahwa sosok yang berhak
menjadi raja adalah Thalut.
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ
اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا
Dan
berkatalah kepada mereka Nabi mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat
Thalut menjadi rajamu”.
Siapakah
Thalut ? Dia bukanlah sosok orang kaya, bukan pula keturunan raja-raja. Nama
Thalut tidak terdaftar sebagai kandidat raja-raja dalam benak para pembesar
Bani Israil yang merasa lebih berhak mendapat kedudukan.
Oleh
karena itu dengan serta merta mereka menyanggah keputusan Allah.
قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ
الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً
مِنَ الْمَالِ
Mereka
menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak
mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan
yang banyak?”
Sang
Nabi mengingatkan Bani Israil tentang ketetapan Allah. Thalut adalah pilihan
Allah maka tidak pantas seorang mukmin berpaling dari keputusan-Mya. Sang Nabi
juga mengingatkan kelebihan yang dimiliki Thalut berupa ilmu yang luas dan
kekuatan jasad sebagai faktor yang sangat berperan dalam kepemimpinan sebuah
negeri.
قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ
عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي
مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
(Nabi
mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan
menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan
pemerintahan (kerajaan) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas
pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. 2:247
Allah
Turunkan Tabut agar turun ketenangan
Rahmat
Allah demikian luas, disaat ada keberatan pada diri-diri Bani Israil atas
penunjukan Thalut, keberatan yang memungkinkan adanya persengketaan dan
permusuhan Allah tampakkan bukti akan keberhakan Thalut memegang tampuk
kepemimpinan. Allah berfirman
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ
آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ
وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ
إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Dan
Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja,
ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu
dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa
oleh Malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika
kamu orang yang beriman. 2:248
Secara
bahasa Tabut bermakna kotak tempat sesuatu. Banyak nukilan tentang hakekat
Tabut. Dikatakan bahwa dalam kotak itu terdapat tongkat Nabi Musa, dua
terompahnya dan peninggalan-peninggalan lain.
Allahu
a’lam tentang keabsahan riwayat-riwayat tersebut. Allah hanya mengabarkan bahwa
Tabut dibawa oleh Malaikat, di dalamnya ada peninggalam Musa dan Harun, dan ini
adalah karomah bagi Thalut sekaligus sebagai bukti kemampuannya menjadi Raja.
Ketenanganpun
meliputi Bani Israil. Mereka tidak lagi mempersoalkan perihal siapa raja
mereka.walhamdulillah.
Ujian
untuk Pasukan Perang
Bendera
jihad dikibarkan. Pasukan bergegas menuju daerah kekuasaan Jalut. Derap langkah
Bani Israil membelah bumi, menyusuri padang pasir menyongsong janji
Allah.
Di
tengah perjalanan datanglah ujian dari Allah untuk membedakan siapa di antara
pasukan yang benar-benar kokoh untuk berjihad dan mana yang tidak pantas.
فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ
بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ
فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ
غُرْفَةً بِيَدِهِ
Maka
tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan
menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya,
bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk
seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.”
Inilah
ujian pertama untuk pasukan, dan ternyata tidak semua lolos dalam ujian. Allah
berfirman:
فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا
مِنْهُمْ
Kemudian
mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka.
Pasukan
terbagi menjadi tiga golongan, pertama mereka yang memuaskan nafsu minumnya dan
melampaui batas, kedua golongan yang hanya sekedar membasahi tenggorokan untuk
menghilangkan dahaga dan golongan yang tidak minum sama sekali.
Thalut
melanjutkan perjalanan dan meninggalkan mayoritas pasukan yang tidak
mengindahkan perintah, dan bermaksiyat terhadap pimpinan.
Sesampainya
di negeri pertempuran, dan saat untuk berlaga semakin dekat. Tampak di hadapan
Bani Israil barisan kaum musyrikin di bawah komando Jalut dengan tentaranya
yang besar. Inilah ujian berikutnya… sebagian pasukan merasa berat menghadapi
Jalut mereka berkata:
فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ
آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ
Maka
tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi
sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami
pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.”
Dan
sebagian pasukan mengingatkan bahwa kemenangan bukan pada banyaknya pasukan,
namun semua dikembalikan kepada Allah. Barisan inilah pasukan thalut yang
paling kokoh mereka berkata:
قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ
مُلاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ
اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
Orang-orang
yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi
golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.
Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”
وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ
وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا
وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Tatkala
mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya)
berdo`a: “Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan
kokohkanlah pijakan-pijakan kami dan tolonglah kami atas orang-orang kafir”.
Keimanan
akan pertolongan Allah dan keyakinan perjumpaan dengan Allah yang diiringi
dengan doa benar-benar mendorong kaum mukminin mengorbankan segala daya dan
upaya mereka di jalan Allah. Allahpun membukakan kemenangan kepada Thalut dan
kaum mukminin.
فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ
وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ
مِمَّا يَشَاءُ
Mereka
(tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan
itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud)
pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan
kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.
Jalut
terbunuh di tangan Dawud yang ketika itu salah seorang personil pasukan, dan
belum diutus menjadi Nabi dan rasul.
Berita-Berita
Israiliyat
Cukuplah
menjadi pelajaran apa yang telah Allah kisahkan dalam Al-Quran tentang Thalut
dan jalut. Adapun rincian kisah beserta pernik-perniknya yang berasal dari
berita Israiliyyat tidak banyak memberikan faedah, terlebih dalam kisah-kisah
israiliyat terdapat kisah-kisah aneh atau batil tentang kisah jalut dan thalut.
Sengaja tidak kita nukilkan dalam lembaran kisah ini.
Tidak
perlu pula bagi kita membahas dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak
datang keterangannya dalam nas semisal pertanyaan: berapa tahunkah masa antara
wafatnya Musa dengan kisah Jalut dan Thalut? Sepeniggal Musa hingga diutusnya
nabi yang tersebut dalam kisah ini sudah berapa nabikah Allah utus? Berapa jumlah
tentara thalut yang memerangi jalut, benarkah mereka sejumlah shahabat yang
mengikuti perang Badar? Apa nama Sungai yang Allah sebutkan dalam kisah ini?
Bagaimana kelanjutan kisah setelah matinya Jalut? Cukuplah Apa yang Allah
kisahkan sebagai penyejuk jiwa dan pelita di tengah gulita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar